2 RASA 1 CINTA: LET'S GET IT
LET'S GET IT
Laki-laki itu tersenyum kecil menatap Nevada, matanya berkaca-kaca tampak sangat bahagia melihat Nevada.
"Neva..."ucap Laki-laki itu lirih.
"Ayah..."ucap Nevada seketika memeluk laki-laki yang ia sebut
ayah. Nevada tak kuasa menahan tangis. Air matanya terus menetes hingga ia
sesenggukan.
Laki-laki itu adalah ayah Nevada yang dipenjara sejak 2 tahun yang lalu.
"Jangan menangis Neva, kamu bukan orang cengeng nak"ucap ayah.
"Neva telah menunggu selama 2 tahun agar bisa bertemu ayah, banyak hal
yang Neva lalui tanpa ayah, apa ayah baik-baik saja?"tanya Nevada mengusap
air matanya.
"Ayah baik-baik saja Neva, bagaimana keadaanmu, kamu sudah datang
menemui ayah, apa itu artinya kamu sudah masuk perguruan tinggi?"ucap
ayah.
"Iya ayah, Neva sekarang sudah kuliah, Neva akan giat belajar untuk
meraih mimpi Neva, Neva akan bawa ayah keluar dari sini"ucap Nevada.
"Syukurlah Nak, kalau kamu sudah kuliah, jangan berhenti sebelum lulus
Neva, kamu harus jadi orang yang lebih baik dari ayah, pintar saja tidak cukup,
jadilah orang cerdas agar kamu tidak mudah ditipu orang lain"ucap ayah
Nevada.
"Akan Neva ingat kata-kata ayah, Neva minta dukungan dan doa dari
ayah"ucap Nevada menunduk mencium tangan ayahnya
"Selagi itu baik, ayah akan selalu mendukungmu, dan ayah selalu berdoa
untuk anak ayah satu-satunya"ucap ayah mengusap kepala Nevada dengan
lembut.
Ayah Nevada berpesan kepada si mbok untuk melarang Nevada menjenguknya di
sel tahanan dan baru mengizinkannya setelah Nevada masuk ke perguruan tinggi.
10 menit berlalu...
Jam penjengukan sudah habis. Nevada terpaksa berpisah kembali dengan
ayahnya, hal itu membuatnya sedih. Namun ia merasa sedikit lega karena dapat
melihat keadaan ayahnya yang baik-baik saja.
Nevada melangkah keluar dari tempat itu, setibanya di gerbang pintu keluar
lapas, Nevada terkejut melihat Billy/Bosnya berdiri tepat di hadapannya dengan
jarak sekitar 2 meter. Perlahan rasa sedih Nevada menghilang berganti dengan
rasa heran.
"Bos Billy kok disini?"tanya Nevada heran.
Alih-alih menjawab, Bosnya justru malah balik bertanya kepada Nevada.
"Kamu kesini naik apa?"ucap Billy.
"Naik motor Bos"ucap Nevada.
"Mana kuncinya?"tanya Billy.
"Ini"ucap Nevada memperlihatkan kunci motor di tangannya.
Billy langsung mengambil kunci itu dari tangan Nevada.
"Kamu pergi naik taksi, motor ini saya pakai"ucap Billy.
"Lha, Kok gitu Bos?"tanya Nevada makin heran.
Billy mengambil HP di saku jaketnya dan memperlihatkan sebuah pesan masuk ke
Nevada. Pesan itu dikirim oleh cik Cacha.
CIK CACHA:
"Nevada bersedia menerima surat tugas itu Bos Muda"
Billy memasukkan kembali HP nya ke saku jaket.
"Di dalam taksi itu sudah ada pakaian untuk menyamar dan peralatan yang
kamu butuhkan untuk observasi, kamu bisa bergerak sekarang juga"ucap
Billy.
"Sekarang?"ucap Nevada.
"Ya, Let's get it, Saya akan mengamati situasi dari
kantor!"ucap Billy.
"Oke, siap Bos, tapi kenapa harus pakai taksi, kan saya ada
motor?!"ucap Nevada.
"Penyamaranmu lebih aman dengan naik taksi, mengerti?"ucap Billy.
"Mengerti Bos"ucap Nevada.
"Ingat, jangan kembali sebelum dapatkan informasi"ucap Billy.
"Siap Bos"ucap Nevada.
Billy membawa pergi motor Nevada dan sebagai gantinya Nevada pergi dengan
taksi.
Tujuan Utama, rumah tersangka.
Sebuah taksi melintasi komplek perumahan warga yang letaknya tidak jauh dari
jalan raya. Taksi itu berhenti di depan salah satu rumah warga. Pintu taksi
terbuka, seorang perempuan berpakaian blazer set hitam dengan paduan
kemeja putih dan celana hitam keluar dari dalam taksi. Perempuan itu adalah
Nevada yang menyamar sebagai seorang pengacara, ia berjalan dengan tenang dan
penuh percaya diri mendatangi sebuah rumah yang pintunya tertutup namun tak
dikunci.
Tok...tok...tok (suara pintu diketuk).
"Permisi, apa ada orang di dalam?"ucap perempuan itu dengan sopan.
Namun tak ada jawaban, rumah itu tampak sepi.
Nevada kembali mengetuk pintu.
Tok...tok...tok.
Kali ini ada jawaban dari dalam.
"Tunggu sebentar"ucap seseorang dari dalam rumah.
Kriee...k (suara pintu terbuka).
Seorang perempuan paruhbaya muncul dari ambang pintu, matanya sembab
sepertinya ia baru saja menangis. Perempuan itu memperhatikan Nevada dari kaki
hingga kepala.
"Siapa kamu?"tanya perempuan itu penuh selidik.
"Saya Tania, seorang pengacara"ucap Nevada sembari menyodorkan
sebuah kartu identitasnya.
"Jangan datang kemari kalau anda hanya ingin meminta saya mengakui
bahwa suami saya adalah pelaku pembunuhan itu, pergi dari sini!"ucap
perempuan itu dengan tegas sembari menarik kembali gagang pintu. Namun Nevada
menahan pintunya agar tidak tertutup.
"Tunggu, saya datang kemari bukan untuk itu"ucap Nevada kemudian
mengawasi keadaan sekitar (takut ada yang mengamati pembicaraan mereka).
"Baiklah, kita bicara di dalam"ucap perempuan itu dengan nada agak
rendah.
Perempuan itu mempersilahkan Nevada masuk ke rumahnya untuk berbincang.
"Saya percaya bahwa suami anda bukan pelakunya, dia hanya
dikambinghitamkan oleh pelaku sesungguhnya".ucap Nevada membuka
percakapan.
"Apa yang membuat anda percaya bahwa suami saya bukan
pelakunya?"tanya wanita itu penuh selidik. "Dan sebelum anda jelaskan
itu, perkenalkan dulu identitas anda yang sebenarnya"ucap perempuan itu
tersenyum tipis.
Nevada terkejut dengan perkataan perempuan itu. Perempuan yang tampak lemah
dan frustasi karena suaminya ditahan kini menjelma menjadi sosok profesional
dan berintegritas. "Siapa perempuan ini, bagaimana ia tahu bahwa aku
berbohong?"batin Nevada. Ia merasa permpuanpuan itu sedang
menginterogasinya.
"Ehm, maaf karena sebelumnya saya berbohong, saya baru saja akan
katakan identitas saya di sini, tapi anda sudah menginterogasi saya terlebih
dahulu"ucap Nevada.
"Ya, saya mengerti, Nevada Almira, seorang Reporter dalam sebuah media
MJM, gadis berusia 18 tahun yang kini belajar di perguruan tinggi"ucap
perempuan itu. Kini Nevada semakin bingung, darimana perempuan itu tahu
identitasnya.
"Siapa anda? Detektif? Penyelidik? atau..."belum selesai Nevada
berbicara perempuan itu memotong pembicaraannya.
"Pengacara, itu profesi saya"ucap perempuan itu.
Nevada terkejut, ia tidak mengerti dengan semua kenyataan ini. Perempuan itu
seorang pengacara, tapi suaminya dijadikan tersangka dan...semuanya membuat
Nevada bingung dengan kronologi kejadian sesungguhnya.
"Maaf, bisa anda jelaskan, mengapa nda tidak bertindak untuk
membebaskan suami anda?"tanya Nevada.
"Neva, saya tidak pernah duduk diam merenungi kesedihan karena suami
saya ditangkap, saya selalu mencari tahu kebenaran sesungguhnya, tapi saya
tidak punya ruang gerak yang leluasa"ucap perempuan itu.
"Maksudnya?"tanya Nevada.
"Saya adalah pengacara rahasia, saya tidak menampakkan wajah di depan
umum bahkan klien saya, jadi saya harus berhati-hati dengan setiap langkah yang
saya ambil, semenjak suami saya ditahan kini banyak orang-orang yang mengintai
rumah ini dan setiap gerak-gerik keluarga saya".ucap perempuan itu.
"Jadi itu yang membuat anda bersikap tampak kacau di depan
publik?"ucap Nevada.
"Mungkin ya, dan sepertinya kedatangan anda kemari mungkin akan cukup
membantu mengungkap semuanya".ucap perempuan itu.
"Jika anda bersedia, bisakah kita bekerjasama untuk mengungkap kebenarannya?"ajak
Nevada.
"Tentu, tapi mungkin saya akan sedikit bertindak dan kamu yang akan
lebih banyak bertindak, tapi saya akan beri kamu sedikit informasi tentang
pelaku sesungguhnya"ucap perempuan itu.
"Anda tahu siapa pelakunya?"tanya Nevada.
"Hanya menduga, belum tentu kebenarannya, Nevada?"ucap perempuan
itu.
"Ya?"ucap Nevada.
"Mungkin pelakunya bukan seseorang yang bisa kamu ungkap dengan mudah,
dia licik dan punya banyak koneksi yang ia jadikan benteng pelindung"ucap
perempuan itu sembari mengeluarkan beberapa lembar kertas dari sebuah map biru.

Komentar
Posting Komentar