2 RASA 1 CINTA: ROY The Care Boy


ROY THE CARE BOY 

Gadis itu bergegas mengambil tasnya dan keluar dari kamar dengan tergesa-gesa.

"Buru-buru amat Non, nggak sarapan dulu?"tanya wanita lansia yang sedang menyiapkan hidangan di meja makan.

"Nanti aja Mbok, ini hari pertama masuk kuliah, Neva nggak mau telat, pamit dulu mbok Assalamu'alaikum"ucap gadis itu yang tidak lain adalah Nevada, ia mencium tangan si mbok dan berangkat dengan motornya.

Nevada mengendarai sepeda motor Varionya dengan cepat dan tetap mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Pandangannya fokus ke depan dengan sesekali melirik jam tangannya. Di tengah kecepatannya mengendarai sepeda motor, tiba-tiba ban motor Nevada bocor.

"Astaga, kenapa harus sekarang sih?"ucap Nevada panik. Tidak ada bengkel di dekatnya, namun ia melihat sebuah bengkel yang letaknya lumayan jauh dari tempatnya berdiri.

Nevada menitipkan sepeda motornya pada seorang tukang parkir. Ia mencoba mencari kendaraan umum untuk sampai ke kampus. Namun tidak ada taksi ataupun bus yang lewat. Ia terus berjalan dan mengawasi sekitar kalau-kalau ada kendaraan yang bisa ditumpangi.

"Cari kendaraan umum?"tanya seorang pemuda bersepeda yang tiba-tiba berhenti di samping Nevada.

"Em, iya, kenapa?"ucap Nevada

"Kendaraan umum disini emang susah, kalau jam segini belum ada, paling nanti jam 12 ke atas"ucap pemuda itu.

"Serius?"tanya Nevada terbelalak.

"Iya"ucap si pemuda.

Nevada memegang kepalanya dengan kedua tangan. Ia tampak bingung dan makin panik. Tanpa ia sadari pemuda itu memperhatikannya sejak tadi.

"Mau berangkat bareng?"ucap si pemuda menawarkan tumpangan sambil mengisyaratkan Nevada untuk duduk di belakang.

"Emang kamu tahu aku mau kemana?"tanya Nevada.

"Universitas Tunas Bangsa kan, mahasiswi baru mau ikut PBAK?"ucap si pemuda.

"Kok tahu?"tanya Nevada heran.

"Itu..."ucap si pemuda menunjuk cocard Nevada yang menggantung di leher.

"Ooh..."ucap Nevada sedikit malu.

"Naik!"ucap si pemuda meminta Nevada untuk naik.

"Oke"

Pemuda itu membonceng Nevada dengan sepedanya sampai ke kampus. Butuh waktu sekitar 15 menit bagi pemuda dan Nevada untuk sampai ke kampus.

Di lapangan kampus yang luas tampak ratusan calon mahasiswa baru sedang berbaris rapi untuk mengikuti upacara penerimaan mahasiswa baru. Waktu menunjukkan pukul 08.00 WIB, satpam penjaga kampus mulai menutup gerbang. Ketika gerbang baru tertutup separuh, tiba-tiba seorang mahasiswa lama dan mahasiswi baru sampai di depan gerbang dengan sebuah sepeda.

"Jangan tutup dulu pak Edi"teriak si Pemuda membuat pak satpam membuka kembali gerbang yang tertutup separuh itu.

"Waduh nak Roy... tumben telat, biasanya berangkat tepat waktu"ucap pak satpam.

"Panjang kalau diceritain Pak, intinya Roy sama temen Roy masuk dulu, terima kasih pak Edi"ucap Roy dengan sopan lalu memasuki gerbang disusul oleh Nevada yang juga tersenyum ramah pada pak satpam.

Roy dan Nevada sempat menjadi pusat perhatian karena mereka datang bersama saat ke lapangan. Beruntunglah mereka sudah ke lapangan terlebih dahulu sebelum para dosen dan pak rektor datang.

Semua calon mahasiswa baru, panitia PBAK, dosen dan rektor Universitas Tunas Bangsa telah berkumpul di lapangan. Upacara penerimaan mahasiswa baru pun dimulai. Usai pelaksanaan upacara, dilanjutkan dengan acara selanjutnya yaitu PBAK atau pengenalan budaya akademik.

Waktu pelaksanaan PBAK berjalan selama 3 hari, untuk 2 hari diisi materi dan 1 hari diisi dengan game.

"Ok guys, setelah game ini selesai, kalian bisa bersih-bersih, istirahat dan lain-lain, jangan lupa nanti malam penampilan pentas seni, jadi tolong dipersiapkan dengan baik ya"ucap David, ketua panitia pelaksanaan PBAK.

"Siap Kak!"ucap semua mahasiawa baru.

Semua orang bubar dari barisan. Hanya Nevada yang masih berada di arena lapangan, ia duduk selonjor sambil memendangi ponselnya. Sejenak ponsel itu berdering ada panggilan masuk. Nevada mengangkat telepon, belum sempat ia mengucapkan halo, orang yang menelepon sudah bicara terlebih dahulu.

"Temui saya di ruang seni"ucap suara dari telepon.

Telepon terputus tepat setelah orang tersebut selesai bicara. Nevada hanya menghela napas kesal. Ia beranjak pergi ke ruang seni untuk menemui orang yang menelpon. Nevada tidak tahu bahwa Roy mengikutinya.

Seorang pemuda bertopi hitam terduduk di kursi memandangi kanvas lukis yang ada di depannya.

Kriee...k perlahan pintu terbuka, seorang gadis muncul dari ambang pintu memasuki ruangan itu.

"Kenapa anda datang kemari Bos?tanya Nevada.

"Ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu"ucap pemuda itu.

"Silahkan"ucap Nevada.

"Kamu boleh cuti full hari ini, tapi besok sore kamu harus mulai bekerja lagi"ucap orang yang dipanggil Bos oleh Nevada.

Nevada terkejut mendengar perkataan bosnya, setelah berkali-kali minta izin cuti full baru kali ini ia diberi izin. 2 hari yang lalu Nevada masih tetap masuk kerja setelah pulang dari kampus. Namun hari ini bosnya memberinya cuti sehingga ia bisa mengikuti kegiatan PBAK malam ini. Nevada tersenyum bahagia.

"Terima kasih Pak Bos"ucap Nevada reflek menjabat tangan bosnya.

"Sudah cukup, tangan saya bisa patah kalau kamu jabat terus"ucap bos Nevada.

"Eh, maaf Bos"ucap Nevada tersenyum kecil melepas tangan bosnya dari jabat tangannya.

"Diam!"ucap bos Nevada.

Nevada terkejut, ia pun terdiam dan berpikir apakah dia salah bicara. Pemuda yang dipanggil bos oleh Nevada itu memandangi wajah Nevada dan mendekat membuat Nevada deg-degan. Sementara Roy melihat keduanya dari luar jendela segera mengalihkan pandangan.

"Kamu habis main sampah ya?"ucap bos Nevada menyibak rambut Nevada.

Nevada terkejut mendengar pertanyaan bosnya.

"Nggak lah, ngapain saya main sampah"ucap Nevada melihat ke bawah.

"Terus ini apa?"tanya bos Nevada menunjuk sebuah kulit permen yang terjatuh dari rambut Nevada. Nevada bingung mengapa kulit permen itu ada di rambutnya. Ia sempat berpikir yang tidak-tidak. Kalau saja tadi bosnya benar-benar menciumnya, ia pasti akan menghajarnya sampai babak belur.

"Hapus pikiran kamu yang aneh-aneh, saya nggak ada niat sedikitpun buat apa-apain kamu, ngerti?"ucap bos Nevada dengan tegas.

Nevada mengangguk, ia hanya bisa melontarkan kemarahannya dalam batin"Kamu pikir saya cewek apaan? saya juga tidak sudi menjadi murahan"batin Nevada.

"Halo... apa ada orang di ruang seni?"teriak Roy dari luar.

Bos Nevada melangkah keluar dari ruangan itu diikuti Nevada di belakangnya.

Mereka bertemu Roy di depan pintu.

"Hai, Neva"ucap Roy menyapa.

Nevada membalas sapaan Roy dengan senyuman.

Roy memandang pemuda di samping Nevada dan berpikir sejenak.

"Hai... lo Billy kan?"tanya Roy.

Nevada kaget mendengar perkataan Roy. Ia menatap bosnya dan Roy secara bergantian, "mungkinkah mereka saling kenal?"batin Nevada.

"Neva, kamu bisa kembali beraktivitas"ucap bos Nevada.

"Baik Bos, saya pergi"ucap Nevada meninggalkan Roy dan Bosnya.

Setelah Nevada hilang dari pandangan mereka berdua, Roy dan Bos Nevada berbincang.

"Lo Billy anak semester 5 jurusan musik kan?"tanya Roy.

"Dan lo, Roy anak setingkat gue jurusan IT"ucap Billy (bos Nevada).

"Bener banget, lo masih inget sama gue"ucap Roy tertawa kecil.

"Kita pernah satu kelompok waktu PBAK, jadi gue ingat"ucap Roy.

"Btw, tadi di dalam ngapain sama Nevada?"tanya Roy serius.

"Bukan urusan lo"ucap Billy.

"Gue cuma mastiin nggak ada perbuatan mesum di kampus ini"ucap Roy.

"Apa gue tampak seperti orang mesum?"tanya Billy menatap dalam mata Roy.

Roy tahu bahwa Billy bukan orang seperti itu, bahkan saat menyukai seseorang pun dia tetap akan jual mahal.

"Gue minta satu hal dari lo, jangan beritahu Neva kalau gue kuliah disini, biarin dia tahu dengan sendirinya"ucap Billy mengulurkan tangannya ke Roy.

"Oke"ucap Roy menjabat tangan Roy setelah berpikir sejenak.

 

Komentar